Saturday, January 26, 2008

Antarina Sulaiman (High/Scope Indonesia)

Gara-Gara Sebuah Rumus
Kisah Antarina membesarkan High/Scope Indonesia

Ketika kuliah di Amerika, Antarina merasakan bahwa pendidikan di sini kurang pas untuk menciptakan anak yang kreatif. Itu sebabnya, ia membuka bisnis baru, di samping mempertahankan pekerjaannya sebagai dosen.

Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga. Peribahasa ini sangat pas bagi Antarina Sulaiman, pendiri sekaligus pemegang lisensi sekolah High/Scope di Indonesia. Pasalnya, Rina, panggilan Antarina, adalah cucu tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Kini penduduk Jakarta pastilah akrab dengan High/Scope. Sekolah ini menyediakan fasilitas belajar dan bermain usia kelompok bermain (playgroup) sampai SMP.

Rina bukan begitu saja lulus kuliah lantas membuka High/Scope di Indonesia. Keputusannya memilih bisnis ini diambil setelah melalui lika-liku panjang. Ceritanya, setelah lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Rina memilih menjadi dosen. Ini berbeda dengan kebanyakan teman Rina yang membidik berkarier di perusahaan besar. Maklum, "Saya lebih tertarik ke dunia pendidikan," ungkap Rina yang lantas mengajar di Universitas Indonesia dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Keuangan dan Perbankan Indonesia (STEKPI).

Tahun 1988 Rina mendapatkan kesempatan untuk mengambil master di Amerika dengan beasiswa dari STEKPI. Ketika itulah, Rina mengalami peristiwa yang menentukan kehidupan selanjutnya. Saat seorang profesor memberi tugas untuk membuat rumus sendiri, ternyata Rina merasa kesulitan. Ia baru sadar bahwa yang banyak dilakukan pelajar di Indonesia hanyalah menggunakan rumus-rumus hafalan. "Saya merasa bego banget, ya, kok tidak bisa mengerjakan tugas profesor itu," kenang Rina.

Nah, dari situlah Rina kemudian menyadari bahwa sistem pendidikan telah berubah. Di Amerika, para siswa dituntut lebih kreatif. Tujuannya agar mereka dapat menciptakan rumus baru dari sebuah situasi yang nyata. Jadi, "Bukan hanya terpaku pada rumus-rumus yang sudah ada," kata ibu empat anak ini.

Itu sebabnya, Rina punya cita-cita baru. Ia ingin mendirikan sebuah sekolah yang bisa mendidik siswa agar lebih kreatif di Indonesia. Maka, tahun 1996, ketika kembali dari Amerika, Rina mulai membuka High/Scope. Konsep pendidikan High/Scope sudah dikenalnya selama di Amerika. Rina membeli lisensi High/Scope dari Singapura. Ia mengajak empat temannya untuk mengumpulkan modal Rp 500 juta.


KKN saat pertama mendirikan sekolah

Lantas, Rina mendirikan High/Scope di Pondok Indah. "Saya buka dengan hanya 8 murid saja untuk tingkat prasekolah," kenang Rina. Delapan siswa itu juga tidak datang dari mana-mana, lo. Enam di antaranya adalah anak-anak pemodal High/Scope Indonesia, termasuk anak Rina. "Itu KKN, ya?" ucap Rina sambil tertawa. Artinya, cuma dua siswa yang murni datang dari luar lingkungan pemodal.

Lucunya, Rina memberikan nomor pendaftaran lima untuk siswa di luar enam anak-anak pemodal High/Scope tadi. Pasalnya, "Saya malu," tutur Rina lagi. Maklum, orang tua sang anak bilang bahwa mereka cepat-cepat mendaftar di High/Scope lantaran kabarnya sudah waiting list. Padahal, anak itulah yang sejatinya merupakan siswa pertama High/Scope Indonesia. "Kenangan menyobek kuitansi itu tidak akan saya lupakan," lanjutnya.

Barangkali karena nama High/Scope sudah terkenal, dalam waktu enam bulan Rina mendapatkan tambahan murid sebanyak 100 orang. Tahun berikutnya, Rina harus menghadapi beludakan pendaftar ke High/Scope. "Sampai benar-benar waiting list, lo," seru Rina yang waktu itu hanya mempunyai enam tenaga pengajar.

Melihat perkembangan High/Scope di Indonesia yang pesat, Rina mengajukan permohonan lisensi langsung dari Amerika. "Saya tidak mau di bawah Singapura, tidak ada untungnya," kata Rina. Kebetulan, waktu itu ada pembaruan kontrak antara High/Scope Amerika dengan pemegang lisensinya di Singapura. Tahun 2000, Rina mendapatkan lisensi tersebut. "Saya puas sekali, bisa mengalahkan Singapura, "ujarnya. Setelah itu, Rina mulai menjual waralaba sekolahnya yang kini sudah ada delapan di seluruh Indonesia.

Setelah umur High/Scope mencapai empat tahun, Rina harus membuka jenjang sekolah yang lebih tinggi, bukan melulu play group dan TK. Itu sebabnya, Rina lantas membuka sekolah dasar. Namun, gedung High/Scope di Pondok Indah juga sudah dirasa kurang besar. Banyak orang tua siswa yang menanyakan gedung sekolah yang baru. "Enggak mungkin kalau di Pondok Indah terus," kata Rina.

Maka, ia mulai mencari lokasi gedung baru. Rina sejak awal tertarik dengan daerah T.B. Simatupang. Ia pun mulai sibuk menawar tanah. "Padahal, duitnya belum ada, "tuturnya. Kebetulan, seorang teman Rina berniat menyewakan tanah seluas 1,2 ha di kawasan selatan Jakarta ini. "Dreams come true," ujar istri Farid Amir ini. Karena tidak mendapatkan pinjaman, Rina harus merelakan uang simpanannya sebesar Rp 20 miliar untuk mendirikan gedung di atas lahan tersebut.

Tahun 2002, gedung milik Rina sudah jadi. Pas waktu itu kontrak gedung di Pondok Indah juga habis. Jadilah Rina memindahkan seluruh siswanya dari prasekolah sampai SD ke gedung baru tersebut.

Saat ini Rina memiliki 700 orang murid dan 120 tenaga pengajar. Dia juga mulai mempersiapkan gedung sekolah baru untuk SMA di belakang High/Scope Simatupang yang sekarang. Sebagai cucu seorang pejuang pendidikan, cita-cita Rina memang mulia, yaitu ingin memberikan pendidikan berkualitas bagi anak-anak Indonesia. Sayang, tidak sembarang anak bisa bersekolah di High/Scope ini. Maklum, hanyalah orang tua dengan kantong tebal saja yang mungkin bisa menyekolahkan anak-anaknya di sini. Untuk tingkat Toddler, misalnya, orang tua murid harus menyediakan uang sebesar Rp 12 juta untuk uang pangkal dan biaya per tiga bulan Rp 4,3 juta.

Lantas, bagaimana dengan anak-anak yang orang tuanya tidak mampu? Menurut Rina, ia memiliki program sekolah asuh. "Jadi kami mengasuh sekolah-sekolah negeri," ujar Rina yang masih mengajar di Universitas Indonesia. "Kita mendidik gurunya, supaya anak-anaknya bisa belajar seperti di sini," sambungnya.

+++++

Ikut Kursus PR

Kendati sudah lebih dulu bekerja sebagai dosen, ternyata tidak gampang bagi Antarina Sulaiman untuk berbisnis sekolah. Ia menganggap meyakinkan orang tua murid tentang metode pengajaran di High/Scope merupakan hal yang berat. Sebagian besar orang tua menuntut anaknya untuk menjadi juara. Padahal, Rina ingin mencetak anak yang kreatif dan produktif. "Harus diberi waktu, dong, anak kan bukan seperti mesin yang langsung bisa jadi," kata Rina. "Susah sekali memberikan pemahaman itu," sambungnya.

Gara-gara soal itu pula Rina pernah didemo orang tua murid. "Mereka minta penjelasan akan dibawa ke mana arah pendidikan anak-anaknya," kata Rina. Terpaksa Rina menggelar rapat dadakan dengan orang tua murid. Rina menjelaskan bagaimana pendidikan yang diselenggarakan di situ sampai tujuan pendidikannya, sampai para orang tua murid itu benar-benar paham. "Tak disangka, rapat itu berakhir hingga pukul 01.30 pagi," kenang Rina.
Setelah peristiwa itu, Rina menyempatkan diri untuk mengikuti kursus PR. "Saya harus tahu cara menangani hal seperti itu, karena kualitas benar-benar harus dijaga, "kata perempuan 43 tahun ini.

Johana Ani Kristanti

8 comments:

yoga permana kusumah said...

wah dimana ada kerja keras pasti ada hasil yang bagus jg :)

duniaputri said...

wah,,, benar...memulai bisnis yah... ah, padahal ingin bergabung dengan hi scope nih...jroji gimana cara yah? hohoho ...

Elyka said...

Kok tabungan Mbak Rina yang pekerjaannya hanya dosen bisa sampai 20 miliar? Gimana caranya tuh?

felice (Felicia halim) said...

tolong follow dan lihat blog saya ya, http://greatest-people.blogspot.com
makasih

damai itu indah said...

WAH MENARIK SEKALI TENTANG KIPRAH BU RINA...BISA SHARING BU???KEBETULAN SAYA INTENS TERHADAP PENDIDIKAN ANAK USIA DINI.TERIMA KASIH DITUNGGU RESPONNYA BU RINA

Anonymous said...

"Melakukan apa yang Anda cintai dan membuatnya profesional adalah jauh lebih baik ketimbang hanya sekedar bekerja untuk hidup,"

Anonymous said...

Kalau ingat philosophynya Ki Hajar Dewantara, kok mbak Rina dengan tidak cermat memahami pendidikan western yang ingin diaplikasikan di kultur Indonesia ya? Sudah mendalami filosofi mbah mu, jeung? Kalau sekedar kolusi dan bisnis oke lah....tapi untuk pendidikan dan berkebangsaan, jangan deh bawa2 nama mbah Ki Hajar yang besar itu....

Mentari Montessori said...
This comment has been removed by the author.